Membaca Pikiran Hasan dalam “Tan Malaka, Hasan dan Madilog”
Oleh: Denni Meilizon
Tulisan Hasan Achari Harahap tentang Madilog ( baca selengkapnya di https://forumtbmsumbar.com/tan-malaka-hasan-dan-madilog/)
menghadirkan kegelisahan yang tampaknya tulus yaitu “menjaga akidah dari pengaruh pemikiran yang dianggap berpotensi menyimpang”. Namun di balik kegelisahan itu, terdapat sejumlah persoalan mendasar yang justru layak diperdebatkan secara terbuka. Esai ini hadir bukan untuk menafikan iman itu, bukan pula menafikan ketulusan niat Hasan Achari Harahap, melainkan untuk menguji apakah kritik terhadap pemikiran Tan Malaka benar-benar berdiri di atas landasan yang kokoh, atau justru lahir dari kesalahpahaman terhadap hakikat pemikirannya.
Pertama-tama, perlu ditegaskan bahwa MADILOG bukanlah kitab tandingan agama, apalagi proyek ideologis untuk menggantikan wahyu. Ia adalah metode berpikir—Materialisme, Dialektika, dan Logika—yang dirumuskan Tan Malaka untuk membebaskan masyarakat dari cara berpikir irasional yang membelenggu kemajuan. Ketika mana Hasan menempatkan MADILOG sebagai ancaman bagi akidah, justrubdi situlah tiba-tiba terjadi kekeliruan kategoris: ia mencampuradukkan wilayah epistemologi dengan wilayah teologi. Nah!
Cara berpikir logis tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan posisi mulia daripada iman, melainkan untuk menertibkan cara manusia memahami realitas. Maka pertanyaannya menjadi relevan: apakah akidah sedemikian rapuh, sehingga harus dilindungi daripada logika?
Kedua, Hasan tampak tidak membedakan secara tegas antara mana “mistis” dan mana pula “spiritual”. Ia berupaya mempertahankan gagasan bahwa bencana alam dapat berkaitan dengan kurangnya ibadah sebagai bagian dari keyakinan teologis. Namun dalam konteks ini, Tan Malaka nyata tidak sedang menyerang dimensi spiritualitas, melainkan ia justru mengkritik cara berpikir mistis yang menolak hukum sebab-akibat. Dalam banyak praktik sosial, bencana sering dijelaskan secara simplistik: gunung meletus karena makhluk gaib marah, laut mengamuk karena ritual tidak dilakukan, atau musibah datang sebagai akibat langsung dari kelalaian ibadah. Pola pikir seperti inilah yang menjadi sasaran kritik MADILOG.
Ironisnya, ayat Al-Qur’an yang dikutip Hasan—tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia—justru menguatkan prinsip kausalitas, bukan meniadakannya. Ayat tersebut dapat dibaca sebagai dorongan untuk memahami hubungan antara tindakan manusia dan dampaknya terhadap alam, yang dalam konteks modern dapat diterjemahkan sebagai kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, dan kegagalan tata kelola. Dengan kata lain, Islam sendiri tidak menolak rasionalitas, bahkan mendorong manusia untuk membaca realitas secara kritis.
Ketiga, terdapat problem logika dalam upaya mengaitkan secara langsung antara tingkat ibadah dengan terjadinya bencana alam. Jika hubungan itu dipahami secara literal, maka akan muncul konsekuensi yang sulit dipertahankan dan amat imajiner: wilayah yang lebih taat seharusnya terbebas dari bencana, sementara wilayah yang kurang religius akan lebih sering tertimpa musibah. Fakta empiris kan tidak menunjukkan demikian. Gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi terjadi karena proses geologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, bukan karena fluktuasi tingkat ibadah suatu masyarakat.
Di sinilah pentingnya MADILOG bahwa ia mengajarkan disiplin berpikir guna memisahkan antara penjelasan ilmiah dan tafsir moral. Bencana dapat dipahami secara ilmiah melalui ilmu geologi, geografi, geofisika, dan ilmu pengetahuan lain sekaligus dimaknai secara moral sebagai pengingat akan keterbatasan manusia. Namun mencampuradukkan keduanya sebagai hubungan sebab-akibat langsung justru membuka ruang bagi kesimpulan yang keliru.
Keempat, niat untuk menjaga akidah di dalam tulisan Hasan tersebut justru saya lihat malah berpotensi melahirkan apa yang disebut sebagai sikap fatalistik. Begini maksud saya, jika bencana dipahami semata sebagai akibat kurangnya ibadah, maka tanggung jawab manusia terhadap kerusakan lingkungan, tata kota yang buruk, atau kebijakan publik yang keliru menjadi terabaikan. Cara berpikir seperti ini tidak hanya menghambat kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga melemahkan kesadaran kolektif untuk memperbaiki kondisi sosial. Sebaliknya, semangat yang dibawa oleh Madilog justru menuntut manusia untuk aktif, kritis, dan bertanggung jawab atas realitas yang dihadapinya.
Kelima, yang membuat saya tersenyum sendiri membaca kritik Hasan Achari terhadap Hasan Nasbi yang tidak sepenuhnya menyentuh substansi argumen yang disampaikan. Gagasan bahwa pola pikir rasional dapat mendorong kemajuan bangsa bukanlah sesuatu yang baru atau kontroversial. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban selalu ditopang oleh keberanian untuk meninggalkan takhayul dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, MADILOG tidak lebih dari sebuah ajakan untuk berpikir jernih dan sistematis—sesuatu yang justru sejalan dengan semangat keilmuan dalam Islam.
Terakhir saya ingin sampaikan dalam artikel tanggapa ini bahwa apa yang kita persoalkan sebagai pokok bahasan kali ini memperlihatkan satu ketegangan klasik yang berlangsung sejak era Isa Almasih as hingga turunnya wahyu ilahi kepada Rasulullah Muhammad Saw sampai har ini yaitu, ketegangan antara iman dan nalar. Namun ketegangan itu sering kali bersifat semu. Sejarah Islam justru menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan. Para pemikir besar dalam tradisi Islam tidak melihat logika sebagai ancaman, melainkan sebagai alat untuk memahami kebenaran secara lebih mendalam. Oleh karena itu, ketakutan terhadap rasionalitas bukanlah bentuk perlindungan terhadap iman, melainkan indikasi bahwa iman belum sepenuhnya berdamai dengan akal.
Dengan demikian, persoalan utama dalam tulisan Hasan bukanlah pada niatnya yang ingin menjaga akidah, melainkan pada cara ia memahami relasi antara agama dan rasionalitas. Tan Malaka melalui MADILOG tidak mengajak manusia meninggalkan Tuhan, tetapi mengajak mereka meninggalkan cara berpikir yang mengaburkan hubungan sebab-akibat. Dan jika umat terus diajak untuk mencurigai logika, maka yang terancam bukan hanya kemajuan intelektual, tetapi juga kemampuan mereka untuk memahami ajaran agama an sich secara lebih holistik lagi bertanggung jawab.[]
Roemahboekoe – Simpang Ampek, 11 April 2026
*Penulis, Ketua Forum TBM Pasaman Barat*


[…] terhadap tulisan saya berjudul “Tan Malaka, Hasan dan Madilog” yang dimuat di website yang sama di tautan ini. Saya menyambut baik kritik tersebut sebagai bagian dari upaya saling menajamkan pemikiran dan […]